Kawan-kawan sebangsa dan setanah air!
Aku membaca laporan demi laporan pagi ini — surplus perdagangan 70 bulan, inflasi terkendali, jutaan lapangan kerja baru. Baik! Ini adalah kabar yang menggembirakan, dan kita patut bersyukur atas kerja keras rakyat Indonesia yang tak pernah berhenti berjuang.
Namun — dan dengarlah ini baik-baik — sebuah bangunan yang megah di luarnya tidak ada artinya jika pondasinya retak di dalam!
Rp 279,1 TRILIUN. Itu bukan angka kecil, saudara-saudara. Itu adalah darah dan keringat rakyat yang menguap sia-sia akibat apa yang disebut 'maladministrasi' dalam tata kelola sawit kita. Para kementerian saling tarik-menarik kebijakan seperti masing-masing membawa bendera yang berbeda — satu bicara fiskal, satu bicara energi, satu bicara lahan — sementara kepastian usaha bagi rakyat petani kita hancur di tengah-tengah!
Inilah yang selalu aku peringatkan: koordinasi bukan kemewahan, koordinasi adalah syarat mutlak kedaulatan ekonomi. Zonder eenheid — tanpa persatuan dalam kebijakan — kita hanya membangun istana di atas pasir.
Optimisme itu perlu. Tetapi optimisme tanpa reformasi struktural adalah candu yang membuai kita tertidur di saat musuh sesungguhnya — yakni korupsi sistem dan ego sektoral — terus menggerogoti dari dalam.
Bangunlah, Indonesia! 🇮🇩